ENTER-SLIDE-1-TITLE-HERE

ENTER-SLIDE-2-TITLE-HERE

ENTER-SLIDE-3-TITLE-HERE

ENTER-SLIDE-4-TITLE-HERE

Rabu, 03 Juli 2013

Posted by Unknown On 18.17
kependudukan

Menikah di usia dini bagi perempuan berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan karena organ tubuh terutama yang berkaitan dengan alat reproduksi. Bahkan, anak yang dilahirkannya pun sangat besar kemungkinan lahir dengan berat badan rendah dan berisiko tubuh pendek atau stunting (kuntet).
Menurut Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN dr Julianto Witjaksono, SpOG, risiko itu akibat fisik perempuan khususnya alat reproduksi yang belum siap mengalami kehamilan. Misalnya, panggulnya masih kecil, rahimnya belum siap. Ditambah lagi, mental yang masih labil. Semua faktor itu bisa mengakibatkan bayi dalam kandungannya kurang gizi.
Saat ini, di Indonesia, ada sekitar 45 persen perempuan menikah di bawah usia 20 tahun. Sebanyak 4,2 persen menikah pada usia 10-14 tahun, dan 41,8 persen menikah pada usia 15-19 tahun.  “Anak stunting ini lebih banyak lahir dari ibu yang hamil di bawah usia 20 tahun. Anak stunting itu tubuhnya pendek, kecil, dan ukuran otak kecil. Risikonya mudah kena penyakit jantung dan pembuluh darah,” kata Julianto di Jakarta, Senin (1/7).
Julianto mengatakan hal yang sama di hadapan para bidan dan  mahasiswa kebidanan saat Seminar Nasional Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Bidan Praktik Mandiri dalam Program KB Nasional', dalam rangka Hari Keluarga XX Tingkat Nasional, di Universitas Haluoleo, Kendari, Kamis (27/6/2013). “Ini harus menjadi perhatian kita,” ujarnya.
Oleh karena itu, BKKBN gencar mengkampanyekan program Genre untuk mendewasakan usia perkawinan. Di Senegal, kata Julianto, jika ada pasangan remaja yang menikah sebelum usia 20 tahun akan dissiarkan di televisi, di koran. Tujuannya, supaya masyarakat jadi tahu semua dan secara bersama-sama berupaya menurunkan pernikahan dini.
Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (PD IBI) Sulawesi Tenggara Janita mengatakan, dirinya sering menemui perempuan yang hamil di bawah usia 20 tahun. Umumnya, saat melahirkan, mentalnya belum siap. “Dia sering mengeluh karena kan saat hamil memang tubuh kita berubah sehingga sering tidak nyaman. Kalau belum matang mentalnya ya pasti kurang mensyukuri,” kata Janita.
Padahal proses persalinan, diawali dengan rasa sakit. Dan setelah melahirkan pun perempuan tidak langsung pulih normal, ada tahapan-tahapan agar tidak terjadi perdarahan pasca melahirkan. “Nah, bagaimana nanti bisa mengurusi anak dengan baik kalau emosinya tidak bisa terkendali. Akibatnya, anak kurang gizi dan mengalami gangguan kesehatan lainnya. Jadi, intinya, untuk menjadi ibu harus siap mental dan fisiknya. Janganlah menikah di bawah 20 tahun,” ajak Janita.

Sumber: BKKBN

Selasa, 02 Juli 2013

Posted by Unknown On 19.32
kependudukan

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India, Amerika Serikat. Dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49 poersen setiap tahun, bila saat ini jumlah penduduk di Indonesia 240 juta jiwa, diperkirakan terjadi penambahan 10.000 bayi lahir setiap hari.
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia tentu cukup mengkhawatirkan. Saat ini angka rata-rata lama sekolah (years of scholling) penduduk Indonesia adalah 5,9 tahun. Itu artinya kalau dirata-rata penduduk Indonesia hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar.
Masalah kependudukan di Indonesia masih diperumit dengan berbagai problem sosial kemasyarakatan yang cukup serius. Kecenderungan menikah di usia muda, memiliki anak ketika usia belum mencukupi, atau gaya hidup seks bebas yang banyak menggejala di masyarakat perkotaan jelas menjadi persoalan serius yang harus dihadapi bersama.
Problematika kependudukan ternyata menjadi perhatian para blogger yang hadir dalam diskusi publik bersama para bloger  yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerja sama dengan Kompasiana di Tartine CafĂ©, FX Sudirman, Jakarta, Rabu (19/6). Diskusi bersama para blogger ini dikenal dengan sebutan “Kompasiana Nangkring”.
Hadir sebagai pembicara antara lain Kepala BKKBN Prof. dr. H Fasli Jalal, Sp.GK., Ph.D dan Deputy Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Dr. Sudibyo Alimoeso, MA dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Mardiana Pambudi.
Penyelenggaraan Kompasiana Nangkring dengan mengambil tema Problema Kependudukan ini didasarkan pada pemikiran bahwa masalah-masalah sosial kemasyarakatan tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah sendiri tanpa mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dalam mengedukasi publik untuk peduli pada peningkatan kualitas penduduk.
Sebagai kelompok strategis yang turut membangun opini publik melalui blog, para blogger yang menyebarluaskan informasi melalui berbagai cara termasuk pendekatann personal perlu diajak berpartisipasi dalam mengedukasi publik. Tulisan yang dipublikasikan para blogger, di era internet ini diyakini memiliki dampak yang cukup kuat di masyarakat melalui tulisan-tulisan edukatif di blog.
Sumber: BKKBN

Senin, 01 Juli 2013

Posted by Unknown On 06.46
Persiapan Pernikahan Itu Penting
Calon pengantin di Indonesia yang diperkirakan mencapai 2 juta perlu mendapat edukasi dan informasi soal program keluarga berencana (KB), kesehatan reproduksi, dan delapan fungsi keluarga agar kelak bisa menjalankan kehidupan berkeluarga yang sehat hingga menjadi keluarga kecil bahagia sejahtera.
“Calon pengantin mungkin perlu buku saku yang berisi informasi tentang keluarga berencana dan soal kehidupan berkeluarga. Kita nanti bisa menghidupkan kembali hotline service untuk menjawab pertanyaan masyarakat tentang kependudukan dan KB,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof dr Fasli Jalal, usai membuka bakti sosial dalam rangka Hari keluarga XX di Kantor BKKBN, Jakarta, Rabu (19/6).
Bakti sosial yang digelar antara lain pelayanan pemasangan kontrasepsi IUD, implant, dan MOP (medis operasi pria), khitanan massal, dan pemeriksaan kesehatan, dan donor darah yang diikuti oleh TNI, Polri, dan karyawan BKKBN, serta masyarakat sekitar Kantor BKKBN Pusat. Bakti sosial ini didukung oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) DKI Jakarta, Puskes TNI, Puskesdes Polri, Unit Transfusi Darah RS Fatmawati, dan YKI.
Harapannya, bakti sosial ini dapat meringankan beban keluarga dalam meningkatkan kesehatan reproduksi bagi anaknya, dapat memberikan kontribusi untuk membantu sesama yang membutuhkan darah,  serta dapat meningkatkan budaya ber-KB dalam rangka mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Pelayanan KB secara mobile yang berpindah-pindah tempat khususnya dengan sasaran di tempat padat penduduk, masih terus dibutuhkan guna mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. “Tetapi yang paling penting adalah menyadarkan masyarakat agar program KB itu menjadi kebutuhan masyarakat. Sehingga dengan sukarela masyarakat mau memakai kontrasepsi,” ujarnya.
Cara pendekatan untuk menyadarkan masyarakat masing-masing kelompok disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. “Semua pasangan usia subur harus memahami untuk apa pakai kontrasepsi. Mereka harus paham jika penduduk tidak dikendalikan ya, dengan kontrasepsi nanti bumi ini tidak cukup. Penduduk dunia nanti di tahun 2050 mencapai 9,4 miliar,” kata Fasli.

Sumber: BKKBN

Minggu, 30 Juni 2013

Posted by Unknown On 22.45
Budaya, Pernikahan dini

Budaya dan stigma masyarakat menjadi salah satu penyebab tingginya angka pernikahan dini di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Para perempuan yang belum menikah hingga usia 20 tahun mendapat dicap sebagai perawan tua. Bagi masyarakat Kalsel ada  stigma “balu anum daripada bujang tuha” yang artinya lebih baik jadi janda muda daripada perawan tua.
Menurut Duta Mahasiswa Genre tingkat Nasional 2012 Shauqi Maulana, budaya dan stigma itulah yang menyebabkan angka pernikahan dini di Kalsel menduduki peringkat pertama di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, persentase angka pernikahan pada usia 10-14 tahun di Kalsel sebesar 9,0 persen, sedangkan pada usia 15-19 tahun sebanyak 48,4 persen.
“Wanita berusia 20 tahun yang belum menika disebut perawan tua, bahkan dianggap sebagai “binian sisa” atau perempuan sisa. Sehingga orangtua juga merasa malu kalau anak perempuannya belum menikah,” kata Shauqi dalam seminar tentang remaja dalam rangkaian Peringatan Hari Keluarga XX Tingkat Nasional di Hotel Azahra, Kendari, Sultra, Rabu (26/6).
Faktor lainnya, yang menyebakan meningkatnya pernikahan dini adalah faktor ekonomi dan agama. Dengan alasan terhimpit masalah ekonomi  keluarga, maka anak gadisnya dinikahkan dengan saudagar kaya raya. “Orangtua akan menanyakan kepada calon menantunya, apakah dia punya sapi, berapa luas sawahnya. Jika kaya diharapkan dapat membantu ekonomi keluarga. Selain itu menikah dianggap sunah Rosul,” ujar Ugi panggilan akrab Shauqi.
Ugi yang sudah lulus dari Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin ini, aktif dalam menyosialisasikan penundaan usia pekawinan (PUP)  melalui kegiatan Genre.  Menurutnya, menikah dini juga mempunyai banyak risiko. Selain secara mental belum matang, organ reproduksinya juga belum matang. Sehingga sering muncul  kekerasan dalam rumah tangga.
Perempuan yang menikah dini di usia 10-14 tahun, memiliki risiko 5 kali lebih besar mengalami kematian saat melahirkan. Pada remaja usia 15-20 tahun, risikonya 2 kali lipat. Belum matangnya organ reproduksi juga menyebabkan wanita yang menikah di usia muda berisiko terhadap  penyakit mengerikan, seperti kanker serviks, kanker payudara, mioma dan kanker rahim.
Menurut Ugi, banyaknya perceraian di usia muda dan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), berdasarkan riset, sebanyak  44 persen pelaku pernikahan dini mengalami KDRT frekuensi tinggi, dan 56 persen mengalami KDRT frekuensi rendah. “Dan hanya 0,02 persen pelaku pernikahan dini yang dapat melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi.
Dengan adanya Genre (Generasi Berencana) dan program Penundaan Usia Perkawinan (PUP), idealnya wanita menikah di atas usia wanita 20 tahun dan pria 25 tahun. Usia tersebut dianggap sudah baik dan matang untuk organ reproduksi wanita, melahirkan, mengatur perekonomian dan keluarga.
Provinsi yang masuk dalam 10 besar mempunyai angka pernikahan dini di Indonesia yaitu Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Timur,  Kalimantan Tengah, Banten,  Jambi,  Bengkulu, Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Papua.
Usai mendengar paparan dari Duta Genre Mahasiswa 2012 itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof  dr Fasli Jalal mengatakan, dirinya merasa ngeri, adanya pernikahan dini di usia 10-14 tahun.”Ngeri ya sudah ada 9 persen pernikahan di usia 10 tahun. Ini tidak bisa dianggap remeh. Kita harus  memperhatikan dan mencari cara untuk mengatasinya,” kata Fasli didampingi Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemeberdayaan Keluarga Sudibyo Alimoeso dan Deputi Pengendalian Penduduk Dr Wendy.
Fasli mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan penelitian untuk mencari penyebab meningkatnya pernikahan dini baik di perkotaan maupun di pedesaan. “Di kota kecenderungannya meningkat dan angka kelahiran di kalangan usia muda di pedesaan juga tinggi. Kita harus tahu persis apa yang terjadi di lapangan, agar kita bisa membuat strategi yang tepat,” ujarnya.(kkb2)
Sumber:  BKKBN